Kisah Si Bola-bola Crispy
Awalnya adalah makanan khas negeri Soo Hyun oppa: Gyung dan (rice cake
tradisional Korea). Karena memori meleset beberapa frame, alhasil jadi
onde-onde rebus. Barangkali juga bisa dinamakan bubur cande—penganan khas buka
puasa. Menyedihkan. Percobaan pertama resmi dinyatakan F-A-I-L-E-D. Uhm,
semangat takkan mundur seperti adonan tepung beras yang hampir menjadi bubur.
Ada tepung crispy, minyak goreng, dan nyalakan api di kompor. Sreng-sreng-sreng,
bola-bola crispy pun tersaji dengan renyah dengan lelehan cokelat di dalamnya.
Jadi, begitulah hikmah di balik kegagalan yang bisa petik, teman. Sesuatu
yang tidak sesuai dengan harapan, itulah yang dinamakan problem atau masalah.
Tidak banyak orang yang bisa mengatasinya dengan bijak. Tidak sedikit orang
akhirnya bersedih, terpuruk, dan terbenam dalam larutan keputus-asaan. Sayang
sekali. Toh, waktu terus bergulir—tak kenal seberapa laranya sakit diinfeksi
oleh virus bernama kegagalan.
Begitu banyak kisah dan perumpamaan yang bisa dijadikan panutan untuk
menghadapi kasus seperti ini. Bahkan ada kata bijak berbunyi: Kegagalan adalah
kesuksesan yang tertunda. Kata-kata klasik yang mungkin saja benar. Tetapi,
makna dari kata “gagal” tersebut kembali kepada perspektif pribadi seseorang—yang
tentu saja berbeda satu sama lain.
Personal viewing: bagi saya kegagalan itu adalah seperti jodoh
yang penuh misteri. Dengan status yang masih “single” atau istilahnya
sekarang—mengutip dari penuturan Dena Rachman (artis kesukaan semasa
kecil—Renaldy Denada nama ciliknya), “I’m available,” saya ingin mengaitkannya
dengan satu kata horor ini. Jodoh. Kegagalan itu tergantung bagaimana kita
menyikapinya. Bagaimana kita menerima. Ya, persoalan antara menemukan dan
menerima. Ketika bertemu dengan suatu kegagalan, apakah kita menerimanya.
Selanjutnya, bagaimana cara kita menerima kegagalan tersebut. Jawaban dari
setiap kita pasti akan berbeda tergantung kadar emosi kita pada kondisi jatuh
tersebut. Ada yang bisa menerima dengan lapang dada—bisa kita namakan Sabarudin
orang dengan tipe ini; menangisi dengan penuh penghayatan berkolaborasi dengan
penyesalan—barangkali orang tipekal seperti ini cucunya pak Sadily; terakhir, melihat
cahaya yang bersinar di balik batu kegagalan dan melompat tegar—pasti orang
dengan tipe ini selalu mengonsumsi multivitamin penambah nafsu makan tiga kali
sehari. Intisarinya: memakai kata “kegagalan” atas tidak tercapainya apa yang
direncanakan tergantung bagaimana kita ingin menggunakannya. Lantas, apa
hubungannya dengan obeng? Tentu saja tidak ada kaitannya dengan obeng,
tergantung profesi anda mengalami kegagalan di mana—di bengkel barangkali.
Jodoh dan kegagalan itu sama, tentu saja ini hanyalah persepsi pribadi saya
semata. Terus terang, saya belum menemukan bacaan yang mendefinisikan teori
persamaan kedua kata tersebut. Jadi, alasannya seperti ini: menurut saya jodoh
itu adalah bagaimana kita menemukan dan menerima. Setiap hari pastinya kita
akan bertemu banyak orang, kecuali bagi mereka yang hanya berdiam diri di
singgasana nyamannya masing-masing. Setiap orang baru yang dijumpai bahkan
menjadi kenalan, bahkan terjalin hubungan yang lebih akrab dan semakin dekat:
itulah yang saya maksud dengan jodoh. Tidak sedikit bagi mereka yang hidup
dalam suasana perantauan yang jauh dari keluarga inti, menemukan kehangatan
keluarga yang sama di sekitar tempat tinggal barunya. Kemudian, kita mengenal
istilah ibu angkat, ayah angkat, kakak angkat, adik angkat, paman angkat,
hingga jasa tukang angkat yang murah dan aman ketika pindahan tiap masa kontrakan
berakhir. Intisarinya, ketika kita menemukan apakah itu kecocokan, kenyamanan
atau kebahagiaan, di sanalah akhirnya kita bisa menyatakan penerimaan. Yes or no. Hanya sebuah pilihan ya atau
tidak, kembali pada waktu dan situasi yang menemani pada saat pilihan itu
diluncurkan. Dan, tanpa mengesampingkan kuasa Sang Hakim semesta alam, itulah
yang kita kenal sebagai takdir kehidupan. Toh, tidak sedikit pasangan yang
awalnya begitu mesra dan bahagia saling pamer cincin berhiaskan Gemstone di jemari manisnya, berakhir
pasrah di meja hijau perceraian. Dan begitulah akhirnya, kata kegagalan
mengakhiri ending drama tak ber-episodenya kehidupan. Merujuk pada
kalimat-kalimat sebelumnya, setiap pribadi kita yang tercipta saling berbeda
ini akan memaknai dengan berbagai sikap arti kegagalan tersebut. Berpikir
positif atau negatif, tergantung kandungan energi yang kita miliki. Mereka yang
memilih hidup sebagai vegetarian
tentu akan berbeda bentuk dan stamina fisiknya dengan mereka yang karnivora atau omnivora. Ya, begitulah. Semuanya adalah persoalan bagaimana kita
menemukan dan menerima. Apa yang kita temukan untuk dimakan itulah yang tubuh
kita terima untuk menjalani kehidupan.
Kembali ke paragraf pertama mengenai kue beras cokelat yang bermutasi
menjadi bola-bola crispy. Fakta di balik kerenyahan makanan berisi cokelat ini
adalah jelas-jelas kegagalan dari si pembuatnya. Namun, satu sisi positif yang
bisa dilakukan adalah bagaimana si trouble
maker menerima kegagalannya karena salah teori dalam proses pembuatan. Eureka! Sebuah penemuan baru yang tak
ternilai harganya. Kemudian, itulah yang dinamakan sebagai kreatifitas.
Kesimpulannya: jadilah pribadi mandiri yang tidak kenal kata cengeng ketika
menemui kegagalan.
Senyum Semangat
☺Bee Joeytha♥

No comments:
Post a Comment