Wednesday, February 14, 2018

Eiffel I'm in Love 2



Eiffel I’m in Love 2….

Gua nonton bareng temen di Cinema21 sore ini sepulang kerja. Uhm, dibilang momen nostalgia…. It’s TRUE! I got that feeling at pre, whilst, and post that movie!

Akting kedua main leads even all the casts still remind us about its previous movie-Eiffel I’m in Love tahun 2000-an. Saat masih demen-demennya rental komik dan novel, zamannya putih abu-abu sok unyu.

Kisah kali ini menceritakan tentang hubungan Tita dan Adit yang setia L.D.R-an selama 12 tahun antara Paris dan Jakarta dengan segala pertikaiannya yang bikin baper para jomblo mania. Cold romantic ala Adit dan manja innocent khas Tita dengan bunda yang konsisten protektif hingga Uni lugu yang bikin lucu.

Secara alur, sebenarnya kisah di film ini biasa saja bahkan bisa ditebak. In personal, barangkali karena gua juga K-Drama lover walau ga cinta-cinta amat. Saat menonton seolah-olah gua adalah penulis skenarionya. Misalnya, saat Tita tiba-tiba kedatangan delivery cheeseburger dan bunga, bahkan Adam yang tiba-tiba menyusul ke Paris saat tahu Tita putus. Atau saat Tita naik lift di Eiffel dan ketemu Adit.

Meski demikian, pesan-pesan kemanusian di dunia asmara lova dari movie ini bisa dikatakan daya tarik yang layak dinikmati sebagai referensi bagi mereka yang menjalani hubungan jarak jauh ataupun terjebak dalam dilema long time relationship tapi belum juga ada kepastian untuk mengakhirinya dalam ikatan yang awet hingga menua dan menutup mata. Nasehat bunda Tita yang patut direnungkan, saat di belahan dunia pemikiran lainnya berlomba-lomba memamerkan indahnya menikah muda, jangan takut menikah, dan bla bla bla….

Menanggapi poin yang satu ini. I do agree with the statement at the scene when Tita’s mom supporting her. Menikah tak hanya karena cinta semata. Butuh persiapan bukan seperti menyeduh ramen instan. Secara garis besar begitulah kira-kira. Feedbacknya bagi gua pribadi, dengan status setia L.D.R-an with somebody who I don’t know where he’s hiding or traveling now… menikah tak melulu karena ready dengan kemapanan materi atau financial-meski itu merupakan faktor penting juga untuk menciptakan rumah tangga yang bahagia, karena fakta membuktikan bahwa sekecil apapun itemnya akan diukur dengan nominal sejumlah angka. Melainkan kesiapan mental dan spiritual juga menjadi tantangannya. Karena, menikah bukan saja You and Me menjadi kita. Tetapi ada keluarga besarku dan keluargamu yang jauh lebih besar yang akan membesar dengan kehadiran keluarga baru yang akan lahir dalam hitungan waktu tak tentu. Meski memang, gua juga tidak pungkiri bahwa rezeki telah dengan sempurna diatur oleh-Nya Yang Maha Tinggi. Namun, bukan berarti Sang Pemilik Kuasa yang menanamkan akal untuk berpikir menyenangkan kita untuk tidak mempertimbangkan kelayakan diri untuk menikah.

Eits, saat gua menumpahkan ini dari benak kepala bukan maksud untuk menyelimuti diri dari ketidaksiapan pribadi melangkah ke fase membuka lembaran baru. Melainkan sebagai motivasi untuk diri semata dalam memampukan jiwa dan raga agar sanggup menerima dan memantaskan diri untuk diterima.

Padang, February 14th 2018

Catatan tak penting dari seseorang yang disebut penonton ~solitary viewer~😄



~bee.joeytha~

Friday, May 22, 2015

The Crispy Balls' Story

Kisah Si Bola-bola Crispy

Awalnya adalah makanan khas negeri Soo Hyun oppa: Gyung dan (rice cake tradisional Korea). Karena memori meleset beberapa frame, alhasil jadi onde-onde rebus. Barangkali juga bisa dinamakan bubur cande—penganan khas buka puasa. Menyedihkan. Percobaan pertama resmi dinyatakan F-A-I-L-E-D. Uhm, semangat takkan mundur seperti adonan tepung beras yang hampir menjadi bubur. Ada tepung crispy, minyak goreng, dan nyalakan api di kompor. Sreng-sreng-sreng, bola-bola crispy pun tersaji dengan renyah dengan lelehan cokelat di dalamnya.
Jadi, begitulah hikmah di balik kegagalan yang bisa petik, teman. Sesuatu yang tidak sesuai dengan harapan, itulah yang dinamakan problem atau masalah. Tidak banyak orang yang bisa mengatasinya dengan bijak. Tidak sedikit orang akhirnya bersedih, terpuruk, dan terbenam dalam larutan keputus-asaan. Sayang sekali. Toh, waktu terus bergulir—tak kenal seberapa laranya sakit diinfeksi oleh virus bernama kegagalan.
Begitu banyak kisah dan perumpamaan yang bisa dijadikan panutan untuk menghadapi kasus seperti ini. Bahkan ada kata bijak berbunyi: Kegagalan adalah kesuksesan yang tertunda. Kata-kata klasik yang mungkin saja benar. Tetapi, makna dari kata “gagal” tersebut kembali kepada perspektif pribadi seseorang—yang tentu saja berbeda satu sama lain.
Personal viewing: bagi saya kegagalan itu adalah seperti jodoh yang penuh misteri. Dengan status yang masih “single” atau istilahnya sekarang—mengutip dari penuturan Dena Rachman (artis kesukaan semasa kecil—Renaldy Denada nama ciliknya), “I’m available,” saya ingin mengaitkannya dengan satu kata horor ini. Jodoh. Kegagalan itu tergantung bagaimana kita menyikapinya. Bagaimana kita menerima. Ya, persoalan antara menemukan dan menerima. Ketika bertemu dengan suatu kegagalan, apakah kita menerimanya. Selanjutnya, bagaimana cara kita menerima kegagalan tersebut. Jawaban dari setiap kita pasti akan berbeda tergantung kadar emosi kita pada kondisi jatuh tersebut. Ada yang bisa menerima dengan lapang dada—bisa kita namakan Sabarudin orang dengan tipe ini; menangisi dengan penuh penghayatan berkolaborasi dengan penyesalan—barangkali orang tipekal seperti ini cucunya pak Sadily; terakhir, melihat cahaya yang bersinar di balik batu kegagalan dan melompat tegar—pasti orang dengan tipe ini selalu mengonsumsi multivitamin penambah nafsu makan tiga kali sehari. Intisarinya: memakai kata “kegagalan” atas tidak tercapainya apa yang direncanakan tergantung bagaimana kita ingin menggunakannya. Lantas, apa hubungannya dengan obeng? Tentu saja tidak ada kaitannya dengan obeng, tergantung profesi anda mengalami kegagalan di mana—di bengkel barangkali. Jodoh dan kegagalan itu sama, tentu saja ini hanyalah persepsi pribadi saya semata. Terus terang, saya belum menemukan bacaan yang mendefinisikan teori persamaan kedua kata tersebut. Jadi, alasannya seperti ini: menurut saya jodoh itu adalah bagaimana kita menemukan dan menerima. Setiap hari pastinya kita akan bertemu banyak orang, kecuali bagi mereka yang hanya berdiam diri di singgasana nyamannya masing-masing. Setiap orang baru yang dijumpai bahkan menjadi kenalan, bahkan terjalin hubungan yang lebih akrab dan semakin dekat: itulah yang saya maksud dengan jodoh. Tidak sedikit bagi mereka yang hidup dalam suasana perantauan yang jauh dari keluarga inti, menemukan kehangatan keluarga yang sama di sekitar tempat tinggal barunya. Kemudian, kita mengenal istilah ibu angkat, ayah angkat, kakak angkat, adik angkat, paman angkat, hingga jasa tukang angkat yang murah dan aman ketika pindahan tiap masa kontrakan berakhir. Intisarinya, ketika kita menemukan apakah itu kecocokan, kenyamanan atau kebahagiaan, di sanalah akhirnya kita bisa menyatakan penerimaan. Yes or no. Hanya sebuah pilihan ya atau tidak, kembali pada waktu dan situasi yang menemani pada saat pilihan itu diluncurkan. Dan, tanpa mengesampingkan kuasa Sang Hakim semesta alam, itulah yang kita kenal sebagai takdir kehidupan. Toh, tidak sedikit pasangan yang awalnya begitu mesra dan bahagia saling pamer cincin berhiaskan Gemstone di jemari manisnya, berakhir pasrah di meja hijau perceraian. Dan begitulah akhirnya, kata kegagalan mengakhiri ending drama tak ber-episodenya kehidupan. Merujuk pada kalimat-kalimat sebelumnya, setiap pribadi kita yang tercipta saling berbeda ini akan memaknai dengan berbagai sikap arti kegagalan tersebut. Berpikir positif atau negatif, tergantung kandungan energi yang kita miliki. Mereka yang memilih hidup sebagai vegetarian tentu akan berbeda bentuk dan stamina fisiknya dengan mereka yang karnivora atau omnivora. Ya, begitulah. Semuanya adalah persoalan bagaimana kita menemukan dan menerima. Apa yang kita temukan untuk dimakan itulah yang tubuh kita terima untuk menjalani kehidupan.
Kembali ke paragraf pertama mengenai kue beras cokelat yang bermutasi menjadi bola-bola crispy. Fakta di balik kerenyahan makanan berisi cokelat ini adalah jelas-jelas kegagalan dari si pembuatnya. Namun, satu sisi positif yang bisa dilakukan adalah bagaimana si trouble maker menerima kegagalannya karena salah teori dalam proses pembuatan. Eureka! Sebuah penemuan baru yang tak ternilai harganya. Kemudian, itulah yang dinamakan sebagai kreatifitas. Kesimpulannya: jadilah pribadi mandiri yang tidak kenal kata cengeng ketika menemui kegagalan.

Senyum Semangat
Bee Joeytha