Eiffel I’m in Love 2….
Gua nonton bareng temen di Cinema21 sore ini sepulang kerja. Uhm, dibilang momen nostalgia…. It’s TRUE! I got that feeling at pre, whilst, and post that movie!
Akting kedua main leads even all the casts still remind us about its previous movie-Eiffel I’m in Love tahun 2000-an. Saat masih demen-demennya rental komik dan novel, zamannya putih abu-abu sok unyu.
Kisah kali ini menceritakan tentang hubungan Tita dan Adit yang setia L.D.R-an selama 12 tahun antara Paris dan Jakarta dengan segala pertikaiannya yang bikin baper para jomblo mania. Cold romantic ala Adit dan manja innocent khas Tita dengan bunda yang konsisten protektif hingga Uni lugu yang bikin lucu.
Secara alur, sebenarnya kisah di film ini biasa saja bahkan bisa ditebak. In personal, barangkali karena gua juga K-Drama lover walau ga cinta-cinta amat. Saat menonton seolah-olah gua adalah penulis skenarionya. Misalnya, saat Tita tiba-tiba kedatangan delivery cheeseburger dan bunga, bahkan Adam yang tiba-tiba menyusul ke Paris saat tahu Tita putus. Atau saat Tita naik lift di Eiffel dan ketemu Adit.
Meski demikian, pesan-pesan kemanusian di dunia asmara lova dari movie ini bisa dikatakan daya tarik yang layak dinikmati sebagai referensi bagi mereka yang menjalani hubungan jarak jauh ataupun terjebak dalam dilema long time relationship tapi belum juga ada kepastian untuk mengakhirinya dalam ikatan yang awet hingga menua dan menutup mata. Nasehat bunda Tita yang patut direnungkan, saat di belahan dunia pemikiran lainnya berlomba-lomba memamerkan indahnya menikah muda, jangan takut menikah, dan bla bla bla….
Menanggapi poin yang satu ini. I do agree with the statement at the scene when Tita’s mom supporting her. Menikah tak hanya karena cinta semata. Butuh persiapan bukan seperti menyeduh ramen instan. Secara garis besar begitulah kira-kira. Feedbacknya bagi gua pribadi, dengan status setia L.D.R-an with somebody who I don’t know where he’s hiding or traveling now… menikah tak melulu karena ready dengan kemapanan materi atau financial-meski itu merupakan faktor penting juga untuk menciptakan rumah tangga yang bahagia, karena fakta membuktikan bahwa sekecil apapun itemnya akan diukur dengan nominal sejumlah angka. Melainkan kesiapan mental dan spiritual juga menjadi tantangannya. Karena, menikah bukan saja You and Me menjadi kita. Tetapi ada keluarga besarku dan keluargamu yang jauh lebih besar yang akan membesar dengan kehadiran keluarga baru yang akan lahir dalam hitungan waktu tak tentu. Meski memang, gua juga tidak pungkiri bahwa rezeki telah dengan sempurna diatur oleh-Nya Yang Maha Tinggi. Namun, bukan berarti Sang Pemilik Kuasa yang menanamkan akal untuk berpikir menyenangkan kita untuk tidak mempertimbangkan kelayakan diri untuk menikah.
Eits, saat gua menumpahkan ini dari benak kepala bukan maksud untuk menyelimuti diri dari ketidaksiapan pribadi melangkah ke fase membuka lembaran baru. Melainkan sebagai motivasi untuk diri semata dalam memampukan jiwa dan raga agar sanggup menerima dan memantaskan diri untuk diterima.
Padang, February 14th 2018
Catatan tak penting dari seseorang yang disebut penonton ~solitary viewer~😄

~bee.joeytha~
